Bernhard Soebiakto: Entrepreneur Kreatif Pembenci Sekolah

Enam tahun lalu saya mendapatkan sebuah surat panggilan pertama dari pengadilan. Sebagai entrepreneur, saya mendapatkan surat panggilan dari pengadilan atas tuntutan berupa somasi. Setengah tahun berikutnya saya mendapatkan somasi dengan nilai gugatan Rp12 miliar.

Waktu itu saya memiliki perusahaan. Untuk mendapatkan laba Rp4 miliar, sungguh luar biasa, jadi saya pikir bertahun-tahun saya membangun perusahaan ada satu tuntutan saja yang hampir membuat saya langsung "habis" jika saya benar-benar kalah dari somasi ini.

Banyak orang bilang saya jarang membeberkan kisah ini ke publik. Menurut saya inilah yang perlu dipelajari sebagai entrepreneur.

Saat kita menghadapi masalah gugatan hukum seperti itu, kita susah berpikir jernih mengenai bagaimana agar bisa menghadapinya. Bagaimana saya harus membayar? Bagaimana saya harus meminjam uang untuk itu? Itulah yang setiap detik saya rasakan. Dari sana, saya kemudian berpikir,"Apakah yang harus dilakukan entrepreneur dalam kondisi terjepit seperti ini?"

Yang saya kemudian lakukan ialah saya mendatangkan pengacara (lawyer). Saya berkata saya belum pernah tertimpa gugatan atau somasi dan saya tak tahu bagaimana prosedurnya, saya memintanya membereskan kasus itu dan menjelaskan semuanya pada saya.

Pengacara itu bercerita bahwa prosesnya membutuhkan waktu 2 tahun. Ada beberapa tahapan di dalamnya. Saya berkata saya buta dengan urusan hukum, tetapi bersedia membayar pengacara itu dan mengharapkan ia bekerja yang terbaik. Saya berkata padanya untuk tidak menghubungi saya sebelum kasus itu diputuskan, yaitu sampai di hari saat diputuskan menang atau kalahnya, dan kalau kalah saya harus bayar berapa. Saya "menutup" kasus itu selama dua tahun.

Saya menjelaskan pada tim saya,"Saya mesti cari akal untuk membuat perusahaan yang labanya 4-5 miliar, saya mau melakukan lompatan dalam 2 tahun saja." Di hari itu saya tidak pernah terpikir menjadi orang yang mendapatkan tuntutan hukum sebanyak Rp12 miliar. Itulah mengapa saya sampai bisa mendirikan perusahaan bernama vimela.com.

Latar belakang saya adalah serial entrepreneur. Saya juga mendirikan Octovate dengan passion hingga sampai di titik saya harus menghadapi kasus itu. Dan saya melihat adanya gelombang besar dalam industri di Indonesia, yaitu industri Internet. Ada detik.com, kaskus.com.

Media online inilah yang menjadi masa depannya masyarakat Indonesia. Saya mencoba membuat, padahal saya tidak paham apa-apa.

Saat mendirikan, di dua tahun pertama mungkin, kami sudah mendapatkan laba dan traction-nya bagus. Dan saya mendapatkan investasi besar pada saat itu. Sehingga ada satu saat saya mendapatkan "jackpot", begitu istilahnya orang-orang di dunia online. Saya dapat investasi, saya berkata,"Yah, akhirnya!" Saya tidak perlu memikirkan jikalau kasus itu kalah.

Akhirnya si pengacara menelepon saya dan berkata,"Ben, bagaimana sudah siap menghadapi kabarnya?" Saya katakan saya siap karena sudah ada dananya. Dia berkata,"Congratulations, kamu menangkan kasusnya. Kamu tidak perlu bayar Rp12 miliar."

Saya ingin mengatakan sebagai entrepreneur kadang kita membuat bisnis seenaknya saja, tanpa tahu tekanan menjadi seorang entrepreneur. Dan saya selama 16 tahun membangun bisnis, dengan 16 perusahaan, dengan 6 yang gagal, saya merasa setiap bulannya pasti muncul banyak masalah di setiap perusahaan itu. Dan itu harus saya hadapi satu persatu.

Tetapi kenapa saya memiliki sebuah ketahanan (resilience)? Karena kalau mau sukses, semua orang ingin sukses. Terima uang dari hasil laba jual perusahaan, tentu senang. Tetapi saya memulai dari nol, saya mulai sejak muda.

Saya percaya banyak anak muda yang mencoba untuk berpikir,"Mulai berbisnis tidak ya sekarang?" Saya sarankan berbisnislah sekarang selama masih muda.

Saya percaya ketika kita gagal di masa muda, nothing to lose. Selama masih muda, cobalah berbisnis agar Anda bisa menguatkan mental, menghadapi tekanan, persaingan, perpecahan kemitraan, dan sebagainya. Saya sendiri sudah mengalami itu semua.

Yang saya rasa mengantar saya menuju sukses bukan jumlah uang yang bisa kita kumpulkan, tetapi jumlah "badai" yang berhasil kita lalui.

Yang saya ingin bagikan adalah satu, mengenai cara saya menghadapi tekanan (pressure). Sejak kecil saya tidak pernah terpikir menjadi entrepreneur. Sekolah saya desain. Saya tidak pernah bersekolah bisnis. Saya asal Surabaya. Saya pernah tidak naik kelas dan saya lulusan lokal. Kalau ditanya apakah ada potensi rendah diri, tentu ada. Kalau bertemu dengan anak-anak startup teknologi, banyak yang kuliah di Los Angeles, di Boston, atau dari Harvard, Stanford, Yale, dan sebagainya. Tetapi saya lulusan lokal, saya tidak peduli!
Tanpa latar belakang bisnis, saya juga merasa rendah diri saat mengetahui teman-teman memahami cara menyusun business plan, marketing plan, dan seterusnya. Sementara saya desainer, cuma paham bagaimana membuat gambar, memakai Photoshop, dan lain-lain. Jauh sekali dunianya. Namun, ternyata semua latar belakang itu tidak terlalu berpengaruh. Yang penting ialah saya mulai melakukan dari muda dan saya berani untuk bicara,"Tidak masalah gagal!".

Saya tabrak saja konsep passion. Banyak orang berkata passion adalah kekuatan pendorong kita berbisnis. Mungkin saya memang tidak berpengalaman dan tidak pernah bekerja dengan orang lain dan tidak punya relasi tetapi saya termasuk orang yang "kemaruk". Saya ingin banyak hal. Saat kecil saya ingin membuka studio, kemudian saat sudah agak dewasa, muncul Internet, saya ingin juga berbisnis Internet. Saya memiliki begitu banyak keinginan. Daripada harus sekolah satu-satu untuk mewujudkan semua impian itu, saya berbisnis saja langsung. Dengan begitu saya mendapatkan pengalaman. Saya banyak belajar perlunya kalkulasi bisnis, marketing, dan sebagainya.

Sebagai kolaborator, saya tidak menjalankan bisnis tetapi orang lain. Beberapa dari bisnis saya itu berawal dari melihat peluang, jika saya suka, saya akan meneliti persaingannya, lalu saya cari orang terhebat di industri itu untuk saya ajak kolaborasi.

Misalnya, saat saya masuk ke industri film. Sejak kecil saya suka film dan ingin menjadi produser. Saat itu saya menghadiri pembukaan film Ayat-ayat Cinta dan bertemu dengan sutradara Hanung Brahmantyo. Saya berkata padanya saya ingin membuat film. Beberapa bulan berikutnya saya menghubunginya dengan mengaku sebagai investor. Lain halnya kalau saya mengaku ingin belajar membuat film, mungkin agkan lebih susah menjalin kerjasama. Saya langsung disambut dengan tangan terbuka. Saya diajak berinvestasi untuk sebuah film. Karena saya tidak punya uangnya, saya pun harus mencari sponsor untuk proyek film itu. Film pertama akhirnya bisa dilaksanakan, lalu proyek kedua hingga kemudian saya dan dia bisa mendirikan perusahaan film.

Contoh lain ialah vimela.com. Saya tak paham media. Tetapi saya punya satu digital agency namanya XM Gravity. Saya hanya tahu bahwa social media dan digital marketing sedang tumbuh pesat. Saya datang ke seorang tokoh media dan berkata bahwa saya mengerti banyak soal digital. Saya mengajaknya bekerjasama dan membuat detik.com-nya perempuan Indonesia. Ia langsung setuju. Dua tahun pertama adalah keajaiban buat saya. Saya menemukan yang terpenting adalah eksekusi.

Dari semua itu, saya menemukan ada 4 hal yang penting yaitu temukan bidang bisnis yang akan digarap. Lalu carilah mitranya yang terbaik di bidangnya. Ketiga adalah kalkulasi. Meski berkali-kali kena masalah dari hukum sampai keuangan, saya tidak jera. Yang keempat, lakukan hari ini. Saat saya sudah mencapai kesepakatan dengan mitra, kami langsung mendirikan bisnis. Tidak pakai lama! (Akhlis)


Comments