Muncul sentra perkakas rumah tangga sejenis di daerah lain

Muncul sentra sejenis di daerah lain (3)

Berdiri sejak tahun 1960, sentra produksi perkakas rumahtangga di Jalan Barito Raya, Kampung Perkalengan, Semarang Timur, sudah lumayan kesohor. Sukses yang diraih sentra ini turut mendorong warga dari daerah lain di Jawa Tengah untuk menggeluti usaha serupa.

Bahkan, belakangan muncul juga sentra produksi perkakas rumahtangga di Tegal dan Pekalongan. "Mereka mengikuti jejak kami," kata Aswono Giman, seorang pengusaha perkakas di Jalan Barito Raya.

Menurutnya, sentra sejenis mulai bermunculan di daerah lain sejak sekitar tahun 2.000-an. Jumlah perajinnya juga lumayan banyak, sekitar 30 unit usaha. Kehadiran sentra sejenis di daerah lain memang menambah ketat persaingan usaha.

Persaingan bukan hanya menyangkut harga, tapi juga soal kualitas barang yang mereka produksi. Giman sendiri mengaku tidak takut dengan persaingan yang semakin ketat. "Yang penting kepercayaan pelanggan harus terus dijaga," katanya.

Bagi Giman, usaha ini sudah menjadi sandaran ekonomi keluarganya. Makanya, ia sangat menjaga kepuasan pelanggan agar tidak lari ke tempat lain. Giman tergolong sepuh di antara pengusaha perkakas lain di daerah ini. Selama puluhan tahun menekuni usaha ini, ia sudah bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga perguruan tinggi. "Yang satu lagi masih di SMA," katanya.

Awalnya Giman hanya seorang karyawan yang ikut dengan bosnya selama delapan tahun. Kemudian tahun 1995, ia memutuskan membuka usaha sendiri di bawah bendera usaha Toko Trijoyo Kaleng.

Saat ia bekerja dengan orang lain, pemasaran pernah sampai ke Jakarta atau Surabaya. Sekarang juga masih, namun jarang sekali. Paling banyak produknya dipasarkan ke kota-kota di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur.

Suparno, pengusaha perkakas lainnya, mengatakan, salah satu kendala pemasaran adalah sempitnya tempat produksi. Semua unit usaha, baik tempat produksi maupun kios, memenuhi sepanjang kiri kanan jalan.

Hampir tak ada tempat lagi bagi pelanggan atau pengunjung yang hendak mampir dan memarkir kendaraannya. Setiap kali mobil jenis pikap berdatangan, maka jalanan pun langsung macet. Belum lagi, lokasi Jalan Barito yang dekat dengan tepi bantaran Banjir Kanal Timur. Jika musim hujan tiba, air sering meluap dan menggenangi kawasan ini.

"Banjirnya tidak parah, tapi air menggenang dan pernah sampai masuk ke tempat produksi. Jadi susah juga kalau mau garap kaleng-kalengnya, " kata Suparno. Kendala lainnya adalah sulitnya mencari tenaga kerja terampil. Apalagi saat musim orderan banyak.

Karena keterbatasan tenaga, ia pun kerap menolak beberapa order yang masuk. Suparno mengaku, masih membutuhkan tiga karyawan lagi untuk mengembangkan usahanya.

Editor: Havid Vebri


Baca di sumber article...

Comments