Perajin gula merah ingin meluaskan pasar di seantero Sumatra

Ingin meluaskan pasar di seantero Sumatra (3)

Sukses sebagai distributor gula merah tidak lantas membuat Heri Susanto cepat berpuas diri. Ia terobsesi bisa menjangkau sebanyak mungkin wilayah di Pulau Sumatra.  
Saat ini, Heri baru memasarkan gula merah di wilayah Lampung Timur dan sebagian wilayah Sumatra Selatan.

Heri sengaja tidak membidik Pulau Jawa karena produk gula merah asal Lampung masih kalah kualitas ketimbang gula merah jawa. "Saya pernah mencoba ke pasar Jawa. Tapi kualitas gula lampung masih di bawah gula jawa, sehingga kalah bersaing," katanya.

Menurut Heri, peluang pasar di Sumatra tidak kalah menjanjikan. Saat ini, kebutuhan gula merah di Sumatra masih ditopang dari daerah Lampung, sehingga ceruk pasarnya sangat besar.

Untuk bisa menjangkau wilayah lain di Sumatra, tentu butuh pasokan gula merah dalam jumlah lebih besar dari yang sudah dikumpulkannya saat ini. Kini, Heri memasarkan sekitar 20 ton gula merah per minggunya. Gula merah itu diperoleh dari 25 agen gula merah binaannya. Setiap agen membawahi rata-rata 10 penderes gula merah di Lampung Timur.

Oleh Heri, 20 ton gula merah itu dipasok ke pasar induk di Lampung Timur hingga sebagian daerah Sumatra Selatan, seperti Prabumulih, Baturaja, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ulu.

Menurut Heri, tidak gampang mengamankan pasokan gula sebanyak itu. "Saya sangat bergantung pada agen dan penderes," ungkapnya. Menurutnya, kadang kala ada saja masalah yang tak bisa dihindari. Misalnya, saat agen atau penderes sedang sakit. Kondisi itu akan membuat pasokan gula merah menjadi berkurang.

Selain itu, kadang ada juga agen atau penderes nakal yang menjual gula merah ke pengepul lain. "Jika mereka nakal, saya coba menasihati dan tetap berkomunikasi," ujarnya. Menurut Heri, penting menjaga hubungan baik dengan agen dan penderes.

Pasalnya, persaingan antara sesama pengepul cukup ketat. Agar tidak berpindah ke pengepul lain, Heri harus menyiapkan modal yang besar untuk meningkatkan relasi, baik dengan agen maupun penderes gula.

Di samping mendistribusikan gula merah ke pasar-pasar, Heri juga memenuhi pasokan gula untuk produsen kecap ABC. "Sekitar 50% untuk pasar, dan 50% lagi untuk pabrik kecap," ujarnya. Namun, langkah memasok gula ke pabrik kecap ini sebenarnya hanya untuk cadangan bila permintaan gula merah di pasar sedang turun.

Selain bisnis gula merah, Heri juga mulai merambah distribusi kerupuk emping melinjo sejak 2013 lalu. "Omzet dan profitnya lebih tinggi dari gula merah," sebutnya. Harga 1 kilogram (kg) emping bisa mencapai Rp 32.000. Dalam seminggu, ia bisa memasok 200 kg dengan profit Rp 2.000–Rp 3.000 per kg.

Menurutnya, pasokan emping melinjo belum tinggi karena bahan baku melinjo masih terbatas. Saat ini, ia menggandeng lima perajin emping melinjo di Panjang, Bandar Lampung. Setiap perajin dapat memasok 30 kg–40 kg per tiga hari. Emping melinjo ini distribusikan ke Palembang.       

Editor: Havid Vebri


Baca di sumber...

Comments