Warung Blambangan menjaga kualitas dan cermat mencari lokasi

Menjaga kualitas dan cermat mencari lokasi (2)

Jalan hidup Budi Septiyanto di perantauan yang bermula menjajal profesi sebagai teknisi sebuah bengkel mobil di daerah Cikampek, Bekasi, berbelok menjadi pengusaha kuliner. Menjalani profesi barunya ini pun dia jalani dengan sistem trial and error. Dia dan sang istri, Yamiyati, tidak memiliki pengalaman di dunia usaha ini. Bekal awal mereka adalah niat kuat dan bakat sang istri yang pintar memasak.

Seiring berjalannya waktu dengan mengamati respon konsumen, Budi terus berpikir untuk mencari produk makanan yang cocok dan bisa diterima oleh masyarakat Jakarta, khususnya untuk segmentasi orang kantoran. Setelah sempat berjualan lontong sayur, Budi beralih menjual menu olahan ayam kampung sebagai kekhasan menu utamanya.

Agar brand Warung Blambangan miliknya bisa makin dikenal, Budi berusaha memilih bahan baku berkualitas, mulai dari pemilihan ayam hingga jenis beras yang pulen untuk memuaskan konsumen. Dia mengaku, mencari pasokan ayam kampung lebih sulit ketimbang mencari jenis ayam lainnya. "Saya bahkan mencarinya hingga keluar Jakarta demi menjaga rasa tiap masakan di Warung Blambangan," kata dia.

Strategi usaha ini yang membuat Budi bisa mempertahankan dan terus mengembangkan usaha resto ayamnya yang kini sudah berjalan selama 24 tahun. Dengan sabar, dia mulai melebarkan sayap dari mulai awal gerai pertamanya berdiri di Mampang, Jakarta Selatan. Hingga kini, dia sudah mampu menambah gerai hingga memiliki enam gerai.

Penentuan lokasi usaha untuk ekspansi juga menjadi perhatiannya. Budi harus yakin bahwa lokasi baru sesuai dengan target pasarnya, yakni orang kantoran. Setelah gerai pertama berdiri Mampang, dia menyasar daerah jalan Kapten Tendean. Dia juga membuka gerai di kantin gedung Infomedia di Jakarta. Karena selama ini, perusahaan tersebut adalah salah satu pelanggan kateringnya.

Saat ini, Budi sudah memiliki total karyawan sekitar 20 orang yang tersebar di seluruh gerai. Ini juga sudah termasuk karyawan yang mengurus jasa katering. Budi bercerita, biasanya gerainya lebih ramai pengunjung di saat jam makan siang dan juga saat malam hari.

Pemasaran yang dilakukan selama ini hanya promosi dari mulut ke mulut. Dia sangat menjaga hubungan baik dengan para pelanggan yang pernah makan di gerainya. Dari situ dia juga kerap mendapatkan pesanan dan pelanggan untuk jasa katering untuk acara-acara perkantoran.

Tiap usaha memang tidak selalu berjalan mulus. Begitu pula yang Budi alami. Dia sering mendapat kendala dari sikap karyawannya. Ia jarang menemukan semangat kerja keras dan ketekunan di antara karyawannya.

Namun Budi terbuka dalam hal ini. Dia kerap mengajak seluruh karyawan untuk saling introspeksi diri untuk memajukan usaha. Para tukang masak yang dididik oleh istrinya juga terus diarahkan untuk memproduksi makanan dengan terus mempertahankan kualitas rasa.

Editor: Rizki Caturini


Baca di sumber...

Comments